Thursday, September 13, 2012

BAHASA BAKU



Bahasa baku adalah bahasa yang sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia yang berlaku. Pedoman yang digunakan adalah Kamus Besar Bahasa Indonesia, Ejaan Yang Disempurnakan (EYD), Pedoman Pembentukan Istilah, dan Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Bahasa yang tidak mengikuti kaidahkaidah bahasa Indonesia disebut bahasa tidak baku. Fungsi bahasa baku ialah sebagai pemersatu, pemberi kekhasan, pembawa kewibawaan, dan kerangka acuan. Ciri-ciri ragam bahasa baku, yaitu, sebagai berikut.

  1. Digunakan dalam situasi formal, wacana teknis, dan forum-forum resmi seperti seminar atau rapat.
  2. Memiliki kemantapan dinamis artinya kaidah dan aturannya tetap dan tidak dapat berubah.
  3. Bersifat kecendekiaan, artinya wujud dalam kalimat, paragraf, dan satuan bahasa yang lain mengungkapkan penalaran yang teratur.
  4. Memiliki keseragaman kaidah, artinya kebakuan bahasa bukan penyamaan ragam bahasa, melainkan kesamaan kaidah.
  5. Dari segi pelafalan, tidak memperlihatkan unsur kedaerahan atau asing.




Ciri-ciri Bahasa Baku

1.Tidak dipengaruhi bahasa daerah.
Contoh : Baku--Ibu---Tidak baku--nyokap; Baku--dilihat---Tidak baku---dilihatin;  Baku--Buku adik kemarin tertinggal di kelas---Tidak baku--Bukunya adik tertinggal di kelas. (Penggunaan -nya terpengaruh pola bahasa Jawa--Bukune adik keri neng kelas).


2.Tidak dipengaruhi bahasa asing
Contoh: Baku--Di sana tempat Kipli bermukim---Tidak baku--Di sana tempat di mana Kipli bermukim.
Baku--kesempatan lain---Tidak Baku--lain kesempatan
Baku--Peristiwa yang dulu pernah kita bicarakan---Tidak baku--Peristiwa yang mana dulu pernah kita bicarakan.

3.Bukan merupakan ragam bahasa percakapan.
  
Contoh: 

Baku                                                      Tidak Baku 

dengan                                                     sama
mengapa                                                  ngapa
memberi                                                   kasih
tidak                                                        nggak    
tetapi                                                        tapi


4.Pemakaian imbuhan secara ekplisit 

Contoh: Baku--menyerang---Tidak baku serang

5.Tidak terkontaminasi dan tidak rancu.
            
            Contoh :

Baku             : berkali-kali
Tidak baku   : berulang kali

Mengapa--bentuk berulang kali salah, sebab bentuk ini sebetulnya berasal dari dua bentuk kelompok kata yang berbeda yakni bentuk (1) berkali-kali, (2) berulang-ulang (gabungan yang tidak dibenarkan secara kaidah)

6.Tidak mengandung pleonasme/berlebihan
             
             Contoh:

Baku                             Tidak baku
maju                               maju ke depan
mundur                           mundur ke belakang
para ibu                          para ibu-ibu

7. Tidak mengandung hiperkorek/over elegant--Mencoba membetulkan bentuk yang sudah benar   yang menyebabkan bentuk yang sudah benar menjadi salah.

               Contoh:

Baku                              Tidak Baku
sah                                   syah
insaf                                 insyaf
teladan                             tauladan
nafsu                                napsu


 

No comments:

Post a Comment

rate